Alhamdulillah di subuh yang hening ini Allah masih memberiku nafas. Sebuah nikmat yang luar biasa untuk seorang manusia yang jelas tak punya daya tanpa kasih sayang-Nya.
Seringkali kita lupa bahwa derita yang datang mendera tak ada apa-apanya dengan limpahan nikmat yang Allah SWT berikan. Dialah cinta pertama bagi seluruh makhluk di bumi ini. Kembali pada-Nya pun harusnya menjadi bagian terindah di ujung kehidupan kita nantinya. Bukankah cinta pertama tak terlupakan dan senantiasa indah untuk jadi tempat kembali?
Seorang murabbi muda pernah mengatakan "Jangan larut dalam kegelisahan, kesedihan yang kita rasakan hanya setitik kecil di alam semesta ini, jangan membesar-besarkan."
Subhanallah, di masa ini mudah sekali kita terpleset dalam kekufuran. Melupakan nikmat berlimpah dari Allah tercinta lalu merasa paling menderita di dunia ini, naudzubillah. Mudah-mudahan mulai detik ini kita mulai bisa mengontrol perasaan kita dan selalu mengingat bahwa kesedihan yang kita rasakan hanyalah sebutir debu kesedihan di padang pasir kenikmatan.
Memoar 17 Ramadhan