-->
Jejak PetualanG Part 3

Jejak PetualanG Part 3



Ini adalah bagian terseru dari petualangan lima hari kami. Perjalanan yang paling banyak menghabiskan waktu, tapi terbayar oleh keelokan pemandangan alam yang kami lewati. Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di pulau yang lebih terkenal dari negerinya sendiri, Bali.

Yihaaa, setelah menikmati dinginnya Batu dan menyantap lezatnya bakso Malang, waktunya bertolak ke Bali via Banyuwangi. Kami naik kereta api Tawang Alun yang berangkat pukul 15.55 dari Stasiun Kota Malang. Bukan perjalanan singkat, sebab 8 jam kami harus duduk dalam kereta yang rasanya berjalan mundur, karena posisi duduk kami, hehehe. Sebelum berangkat, kami sempat berjalan kaki di sekitar stasiun untuk mencari warung makan yang pas (di kantong yang mulai kering). Lumayan jauh, tapi wajarlah bagi travelling ala backpacker. Warungnya pun ketemu, ada wifi gratis, dan sederet menu yang namanya unyu: bakso goyeng, tahu goyeng dan semua yang goyeng goyeng!


Setelah selesai mengisi perut, dan gak lupa ngebungkus makanan untuk di kereta nanti, kami ke stasiun. Kereta datang tepat waktu, kami pun segera naik. Tapi kami mendapat kenyataan pahit, ternyata tempat duduk Ucu jauh terpisah dari saya dan Sulham hahahaha. Saya dan Sulham duduk berhadapan dengan sepsasang suami istri dengan destinasi Jember; kotanya Mas Anang. Hmm, kalau aku siih, eh kenapa jadi ketularan -_-, hihihi. Suami istri ini ramah banget loh, dan istrinya terkagum-kagum banget dengar peualangan kami, khususnya saya. Soalnya, si mbak gak pernah beranjak dari Jember sejak kecil, dan baru menginjakkan kaki di kota lain, yaitu Malang setelah menikah. Berbanding terbalik dengan saya yang sudah berkelana kesana kemari. 

Bukan hal mudah duduk 8 jam di kereta. Saya dilanda kebosanan parah,tapi untungnya suami istri di depan saya asik diajak ngobrol, dan ada Sulham yang enak dibully, hahaha. Sayangnya, suami istri nan ramah di depan kami hanya 5 jam di kereta, karena Jember lebih dulu dicapai, sedangkan Banyuwangi adalah destinasi paling terakhir. Main hockey di Ipad, makan, berbagi headset, sampai tidur-tidur ayam sudah kami lalui, entah apa yang dilakukan Ucu nun jauh di tempat duduk sana, hahahaha. Saya sempat ke toilet kereta, dan betapa terkejutnya saya untuk pertama kalinya melihat toilet semacam itu. Sangat sempit dan saya hampir jatuh ketika kereta tiba-tiba berhenti karena sampai di stasiun berikutnya.

Pukul 12.00 kami tiba di Banyuwangi, dengan perut penuh terisi angin. Jadilah kami singgah di Indomaret dekat stasiun untuk membeli tolak angin dan pop mie. Setelahnya, kami berjalan kaki ke pelabuhan ferry yang jaraknya hanya 100 meter. Asik juga ternyata jalan kaki di malam hari, hahaha. Kami membeli karcis seharga 8,000 rupiah per orang. Tergolong murah, untuk perjalanan 20 menitan menyebrang ke pelabuhan Gilimanuk di Bali. Tapi malam itu, ombak sedang tinggi, jadi hampir satu jam kami di atas ferry. Tapi lagi, walaupun lebih lama, perjalanan dengan ferry ini menyenangkan sekali. Kami bisa menikmati pemandangan laut di malam hari yang super duper kereeeeen, plus lampu-lampu cantik yang kelihatan di seberang pulau. Pokoknya spektakuler!

Setelah naik ferry, kami masih harus naik bus ke Denpasar dengan waktu tempuh 4 jam. Gak nyangka, kalau pulau Bali yang di peta cuma seiprit itu ternyata luas juga, huhuhu. Kami kehabisan uang cash, hanya tersisa 90000, terpaksa kami menawar mati-matian bus yang harusnya 40000 per orang jadi 30000, hihihi. Pemandangan kiri-kanan lagi-lagi sangat apik, tapi tidak lama kami nikmati karena kami tertidur pulas, mungkin kami sudah lelah. Pukul 6.00 pagi, kami terbangun, tepat waktu bus sampai di terminal di Denpasar. Selanjutnya kami mencari taksi ke legian, karena tidak ada transportasi lain. Legian kami pilih, dengan pertimbangan dekat dengan Kuta, dan bandara Ngurah Rai. Itu berarti, kami bisa berjalan kaki ke tempat wisata, ke Joger, dan lebih cepat ke bandara. 

Sampai di legian, kami berkeliling mencari hotel murah, tapi tidak kunjung menemukan. Sampai akhirnya kami mendapatkan Guest House yang harganya hanya 200,000 per kamar, dan dihitung sehari sampai pukul 12.00 siang besoknya. Kamarnya luas, tempat tidur super besar, ac, kulkas, plus kamar mandi dengan shower, oiya ada TV plasma nya juga, pokoknya recomended banget! Kecuali satu, pemiliknya kurang ramah, bahkan terkesan sangat jutek. Tapi gak masalah untuk backpacker seperti kami, yang penting dapat murah dengan fasilitas maksimal, hahahaha. 

Setelah istirahat sebentar, kami pun memulai petualangan di Bali. Ternyata Bali memang kece, apalagi jalanan di legian yang rasanya seperti bukan di Indonesia. Begitu juga di Kuta, pemandangan benar-benar cantik dan bersih. Kami mencari penyewaan sepeda, tapi sayangnya tidak ada. Setelah puas jalan-jalan di Kuta, kami menuju Joger. Awalnya, kami mengira jaraknya dekat, tapi ternyata kaki rasanya hampir patah berjalan kaki ke sana, huhuhu. Setelah membeli beberapa barang, kami pun pulang ke penginapan, menempuh jarak yang lumayan jauh lagi. Untungnya jalan kaki adalah kita bisa menikmati pemandangan lebih rinci, dan legian di malam hari lebih spektakuler dibanding siang hari. Rasanya kami yang jadi orang asing di kota ini, saking banyaknya turis dari berbagai negara, sedangkan kami tampak seperti minoritas. Apalagi saya berjilbab, jadilah setiap lewat ada saja orang yang menyapa assalamualaikum ke saya. 

Sampai di guest house, saya beristirahat sambil menonton TV. Iseng, saya memilih channel luar negeri yang sedang memutar The Conjuring. Sialnya, waktu Ucu dan Sulham mau pergi bertemu temannya, Ucu memberi tahu saya kalau meteran listrik depan kamar terus berbunyi, tanda kalau vouchernya akan segera habis. Jadilah saya dihantui ketakutan malam itu, nyatanya sampai kami meninggalkan penginapan esok paginya, listriknya belum padam.

Pukul 09.30 pagi kami bertolak ke Bandara Ngurah Rai, karena pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 11.00. Rasanya masih ingin berkeliling di Bali, apa daya uang tak sampai, hihihi. Bukan Bali kalau tidak cantik, bahkan bandaranya pun membuat kagum. Rasanya kayak Bali banget, meski fasilitasnya kelas internasional, tapi nuansa budaya lokalnya begitu terasa dari gaya bangunan. Ah, pantesan Bali lebih dikenal daripada Indonesia itu sendiri. Berakhirlah petualangan lima hari kami, banyak sekali memori menyenangkan, lucu, bahkan sempat juga ada yang uring-uringan di awal perjalanan, sebut saja dia ahjumma (lupa saya ceritakan di part 1), hihihi. Yang jelas, sebuah perjalanan itu sendiri adalah pembelajaran, semakin banyak kita berjalan, semakin banyak kita belajar, semakin banyak kita bisa berbagi, dan semoga semakin banyak kita bersyukur. 






















“I would rather walk with a friend in the dark, than alone in the light.” 
― Helen Keller
Read more »
Jejak PetualanG Part 2

Jejak PetualanG Part 2

“See the world. It's more fantastic than any dream made or paid for in factories. Ask for no guarantees, ask for no security.” ― Ray BradburyFahrenheit 451

Selama ini saya cuma bisa dengar cerita dan menatap foto-foto spektakuler teman-teman yang kuliah di Jawa, dan lagi berkunjung ke Batu, tempat wisata paling terkenal di Malang. Penggambarannya bikin saya selalu ngiler buat ke sana, dingin, dan hijau. Perpaduan paling sempurna di mata saya yang kecilnya di habiskan di bumi katulistiwa, Borneo dan kuliah di kota pelaut, Makassar. Maka ketibaan kami di kota Malang rasanya seperti anugerah, apalagi habis terpanggang di Surabaya, hahaha. Nah, sebenarnya saya salah pilih stasiun pemberhentian sih, harusnya turun di Malang Kota Baru, tapi malah turun di Lawang. Ini gara-gara artikel menyesatkan di salah satu situs berita tajam dan terpercaya. Gara-gara tagline mereka saya langsung percaya kalau Lawang itu lebih dekat sama Batu dibandingkan Malang ke Batu. 

Sekitar pukul satu malam, kami sampai di Lawang. Jam segitu masih banyak ojek gentayangan loh, hebat banget kan? Jadi kami diantar ojek ke sebuah losmen. Losmennya strategis, di pinggir jalan raya dan kamarnya lumayan bagus. WC dan airnya paling penting buat saya sih, jadi kalau itu terpenuhi saya sudah bilang bagus, hehehe. Di sana tanpa AC kamar udah dingin banget. Kamar ini juga dilengkapi tv plasma, yang sebenarnya gak perlu-perlu banget sih soalnya kita cuma numpang tidur di Lawang. Nah, jam 11 siang waktu sewa habis, dan sempat terjadi ke-ongolan waktu mas-mas penjaganya bilang "jamnya ente' yaa!". Lah, si Sulham langsung teriak iya, tapi sesaat kemudian manggil masnya lagi nanya "maksudnya jam berapa mas?" Jeduaarrr!!! Tepok jidat barbie plisss, hahahaha. Masnya itu kan ngasih tau kalau jamnya habis, dalam bahasa jawa, ahahahah. Sebenarnya saya ngerti, karena semasa di Bontang hampir semua teman saya berasal dari Jawa. Tapi saya gak mampu membaca ketidakmengertian Sulham, hahaha, maafkan, huhu. 

Nah, waktu mau naik angkot, barulah saya sadar kalau kita ditipu artikel yang saya bilang tadi. Ternyata untuk menuju Batu, kami harus ke Kota Malang dulu. Untungnya ongkos angkot cuma 4ribu, walaupun waktu tempuhnya hampir satu jam, soalnya macet paraaah. Sampai di Malang, kami ditawari angkot ke Batu, tarifnya mahal amaat, 175ribu, kayaknya sih mereka mau ngebego-begoin kita secara tampang turis banget kali ya, hihihi. Akhirnya kami memilih taksi, dengan tarif borongan 80ribu ke Jatim Park 2. Sekitar 45 menit di jalan, akhirnya kami sampai. Nah, kami memilih tiket untuk dua tempat yaitu museum dan Batu Secret Zoo, ini paling murah soalnya, hahahahah. 

Museumnya bikin takjub banget, mungkin karena baru pertama kali ke sana ya. Tapi semua replika hewan dan setting tempatnya terasa sangat nyata.  Dari museum, kami lanjut ke Batu Secret Zoo. Kebun binatang kali ini mirip kayak Taronga Zoo di Sydney, oke banget! Nah di sini kita ketemu Ibu2 yang ternyata juga dari Makassar, beliau lagi mengunjungi anaknya yang kuliah di Malang, sekaligus ngajak liburan anak bungsunya. Pertemuan ini jadi ajang penghematan kita, karena si Ibu yang baik hati banget ngajak kita nginap di rumahnya, horeeee!

Eh, dari Batu Secret Zoo, kita langsung tersambung ke wahana bermain yaitu Happy Land. Di sana kami mencoba tsunami yang cukup bikin suara hampir habis karena berteriak. Bayangin, kita berasa naik di kipas angin raksasa yang kemudian dari kanan ke kiri, terus arah sebaliknya, dengan kecepatan super yang bikin perut rasanya tertinggal di atas sana. Setelah itu, wahana selanjutnya saya lupa namanya, yang gak berasa apa-apa sih walaupun muter-muter gitu. Malahan, saya ngobrolin bisnis sama Ucu pas di atas, ahahahah sok jagoan banget. Lanjut ke rumah hantu, saya terpaksa ikut masuk karena ya dipaksa, hahaha. Padahal saya paling gak kuat dengan hal mengagetkan. Alhasil, saya sama sekali gak ingat apa aja yang ada di dalam, karena lebih banyak kaget, berteriak dan panggil mamak. Tas dan bajunya Ucu dan Sulham mungkin hampir rusak saya tarik tiap kaget, hahahaha sekali lagi maaf guys! 

Setelah menghabiskan hari di Batu, dan nginap semalam di rumah ibu baik hati tadi, Rabu siang kami menuju stasiun Malang untuk melanjutkan perjalanan ke Bali via Banyuwangi. Ini jadi perjalanan paling panjang tapi sama sekali tidak melelahkan, dan malah paling seru. Penasaran? Nantikan episode selanjutnya, bersambung...jengjengjengjeng *zoom in zoom out ala sinetron*.


Ini nih Foto-foto selama di Malang...
Menunggu di Stasiun Gubeng, Surabaya




Mission COMPLETE!!!








Cleopatra (?)










Read more »
Jejak PetualanG Part 1

Jejak PetualanG Part 1

“The world is a book and those who do not travel read only one page.”  ― Augustine of Hippo


Travelling? Kedengaran kece dan kekinian banget di zaman di mana sekat-sekat jarak dan budaya dihapus sama globalisasi. Sebenarnya hal yang satu ini sudah dilakukan manusia dari jaman dahulu kala, malah lebih sering di era tanpa teknologi dulu. Istilahnya aja mungkin ya yang lebih fresh dan terdengar modern dibandingkan kata nomaden, hihihi. Tapi, hal yang satu ini emang asik banget! Apalagi untuk orang penyuka tantangan yang gak suka berdiam diri di zona nyaman kayak saya, wkwkwk.


Senin, 18 Mei 2015 kemarin akhirnya saya memberanikan diri untuk travelling ala backpacker. Tanpa perencanaan panjang, karena sebenarnya semua itu terjadi akibat kecerobohan, ahahahah. Jadi, bulan lalu salah satu teman saya yang tidak boleh disebutkan namanya, sebut saja Ucu, salah ngebooking tiket pesawat. Harusnya 18 April malah jadi 18 Mei dan baru sadar setelah pembayaran dilakukan. Jadi, daripada tiket hangus, kami memilih untuk menggunakan tiket tersebut untuk travelling Jawa-Bali. Lima hari, kita jadi petualang yang lebih lama di jalan ketimbang di kota orang, hihihi.

Jam lima pagi kita langsung berangkat ke Bandara Sultan Hasanuddin. Tujuan pertama adalah Surabaya, beruntungnya kita dapat tiket Garuda Indonesia dengan potongan harga, dan kalau mau ke Jawa, paling murah ya ke Surabaya. Sebelumnya kita udah ngebooking tiket kereta api dari Surabaya ke Malang, jadi Surabaya cuma jadi pintu masuk ke Jawa, karena sebuburnya eh sejujurnya, kalau buat liburan Surabaya kurang asik jadi pilihan. Selain karena panasnya sebelas dua belas sama Makassar, gak ada pemandangan atau tempat asik yang bisa didatangi kalau ke kota pahlawan ini. Jam enam lewat dua puluh lima menit, kami terbang ke Surabaya dan sampai di sana sekitar jam enam lewat lima puluh lima menit, soalnya kita berpindah ke WIB. Sampai di sana, kita mutusin pacar, eeh hahahaha jomblo mutusin ape? Oke, kembali ke benang merah, kita menuju kebun binatang, tempat terjauh yang dijangkau Bus Damri dan dekat stasiun Gubeng. Tapi, ada cerita lucu yang sayang kalau dilewatkan, hahahaha.

Pas nyampe bandara Juanda, teman saya sebut saja Ucu langsung menuju toilet. Sebelumnya saya dan Sulham gak curiga sih kalau dia ternyata lagi punya masalah dengan perut. Setelah itu, kita naik free shuttle bus ke bandara Juanda T1 untuk kemudian naik Damri. Nah, pas nyampe di T1, Ucu ke wc lagi. Pas lagi di wc, bus tujuan Kebun Binatang Surabaya datang, jadilah saya dan Sulham naik untuk ngambil tempat. Karena takut Ucu gak liat kita, akhirnya saya turun dari bus. Eh tau-tau bapak-bapak petugas bilang, loh kok turun lagi? Saya jawab deh kalau lagi nunggu satu teman yang di wc. Si bapak tadi bilang oke, eh tapi tau-tau busnya jalan dan saya panggil bapak tadi, dia bilang adek nunggu di depan aja, mau berhenti kok di depan. Saya anteng-anteng aja sampai kemudian bus itu gak berhenti, malah jalan terus dan si Bapak tadi malah bingung sambil bilang ke saya dengan entengnya "loh dek, itu ditinggal sama busnya, coba hubungi masnya yang di dalam tadi." Lah, saya malah jadi lebih bingung, dan langsung nelpon Sulham. Agak panik, Sulham bilang supirnya gak mau berhenti. HP saya udah mau lowbat, dan semua tas berisi uang, dompet dan seluruh harta benda ada di dalam bus. Maka paniklah saya sejenak, sampai Ucu datang dan saya malah ngakak cerita kalau kita ditinggal bus. Untungnya Ucu punya duit, jadi kita nunggu bus selanjutnya. Pas beberapa menit sebelum bus datang, Ucu mules lagi. Padahal, itu bus terakhir di pagi itu, selanjutnya masih satu jam lagi. Melihat saya bingung, seorang Mas-mas petugas nanyain teman saya di mana. Saya pun bilang dia di wc dan hp saya lowbat. Akhirnya mas tadi nelpon si Ucu pake hpnya. Setelah nelpon, si mas nanya "temannya BAB ya mbak?" sambil ketawa ketiwi. Saya jawab aja gak tau, tapi si mas malah memaparkan bukti konkret dari jawaban Ucu di telpon yang bilang "iya, sudah mau selesai." Saya pun mati gaya, ikut aja deh ketawa, maap ye Ucu, hihihi. 

Akhirnya, setelah hampir ditinggal lagi, kita naik bus ke KBS. Waktu di Bungur Asih, bus yang ninggalin kita tadi ternyata nungguin dan saya beserta Ucu pindah ke bus itu, akhirnya kami bertiga terkumpul kembali, huhuhu. Sayangnya, KBS ini gak begitu asik. Kotor, jadul dan gak terawat. Hewan-hewannya pun magernya minta ampun. Padahal masih siang dan hari senin (?). Bosan di KBS, kami lanjut ke Surabaya Town Square, nyari restoran cepat saji buat numpang ngecharge dan tidur, hihihi. Nah, Sutos ini kece banget arsitekturnya, sayangnya sepi pengunjung. Padahal, jarang ada mall yang desain bangunannya seunik itu. Kita sempat ditegur satpam restoran cepat saji gara-gara Sulham ketahuan tidur, kejam gileee, hahahaha. Setelah dari Sutos, kita bertolak ke Stasiun Gubeng. Waktu itu sekitaran jam enam sore. Sampai di Gubeng, kita jalan-jalan cari makan yang ternyata mahal banget kalau dekat stasiun. Masa' tahu tempe yang digoreng pake minyak item tiga porsinya 49000? Setelah makan dan sholat, kita nongkrong gak jelas di stasiun. Jadwal kereta masih beberapa jam. Asiknya, di Gubeng ini ada pertunjukan kayak night jazz gitu, hihi. Tapi ini bapak-bapak bersuara batu akik yang nyanyi lagu lawas. Waah ini baru asik!! Setelah bapak-bapak itu selesai nyanyi, kami lanjut nyanyi sendiri dari bangku tunggu di stasiun. Cukup membuat beberapa mata tertuju pada kami, hahahaha. Nah, setelah berjam-jam nunggu, akhirnya kereta kami datang, dan pukul setengah satu dini hari kami tiba di stasiun Lawang, Malang. Dari stasiun, kita naik ojek ke sebuah losmen. Setelah itu kita langsung tepar, rencananya, pagi kita akan ke Batu, waaah. Akan seperti apa cerita kita di Batu? Nantikan lanjutannya yaaa....hihihi...

Read more »
Pesona Turki

Pesona Turki

Dari Aussie terus Korea, kita lompat ke Eropa. Siapa yang gak pengen ke benua menakjubkan ini coba? Tapi negara impian saya di Eropa bukan Prancis yang lagi ngetren banget, walaupun pengen juga sih ke Prancis gara-gara novel Edensor. Nah, negara impian saya adalah Turki. Pasti pernah dengar kan kalau Turki merupakan tempat dimana budaya Barat dan Timur bertemu? Pertemuan budaya ini nih yang bikin saya antusias banget sama Turki. Negara asal ilmuwan terkenal Harun Yahya ini emang punya banyak pesona. Ini dia nih tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi kalau ke Turki.
 
1. Pamukkale, Turki
Pamukkale-Turkey_835.jpg
Turki sudah terkenal dengan keindahan alamnya. Pariwisata di negara ini juga termasuk yang berkembang pesat. Banyak yang berbondong-bondong menuju Turki untuk menghabiskan waktu liburan, salah satunya ke tempat yang disebut sebagai Pamukkale berikut ini.
 
Pamukkale dalam Bahasa Turki berarti benteng kapas. Kenapa disebut sebagai benteng kapas? Jadi begini, Pamukkale merupakan wisata alam yang berupa pemandian air panas. Pamukkale terbentuk secara alami akibat gempa bumi dahsyat yang pernah terjadi di Turki ribuan tahun yang lalu. Secara alami, kawasan ini pun membentuk kolam-kolam yang memiliki air panas mengalir bak air terjun. uniknya, kolam-kolam tersebut memiliki dinding dengan warna putih. Jadi, menurut saya pribadi, benteng kapas atau Pamukkale dalam bahasa Turki menjadi nama kawasan wisata tersebut.
 
Pamukkale ini memiliki kolam-kolam yang berjumlah sekitar 17 kolam. terletak berundak-undak seperti air terjun, membuat pengalaman berendam di air panas anda lebih berbeda dari biasanya. Suhu air yang ada di Kolam Pamukkale ini berkisar antara 37 derajat hingga 100 derajat celcius.
 
Dari atas, foto-foto Pamukkale bahkan terliuhat seperti di kutub. Seperti salju-salju yang menutupi kolam tapi ada beberapa kolam yang berlubang. Tapi jangan salah, di sini benar-benar air panas. Uniknya lagi, air panas di Pamukkale ini tidak pernah dingin atau membeku, bahkan di musim dingin sekalipun. Keren banget deh!
 
Untuk luas yang dimiliki Pamukkale ini, Pamukkale merupakan kawasan dengan panjang 2.700 meter atau sekitar 2,77 km. Lebarnya 600 meter dengan tingginya yang sekitar 160 meter. Cukup besar dan tentunya membuat anda nyaman tanpa harus berdesakan, karena kawasan ini ada sekitar 17 sumber air panas.
 
Tak hanya berwisata alam saja, berkunjung ke Pamukkale merupakan wisata yang bisa menyehatkan anda. Pamukkale ini memiliki kandung-kandungan yang baik untuk tubuh. Misalnya nih, ada kandungan hidrogen karbonat, kalsium dan lain sebagainya di dalam air panas tersebut. Makanya, nggak heran kalau para wisatawan yang datang ke Turki pergi ke Pamukkale bukan cuma jalan-jalan saja, tapi juga meregangkan otot-otot yang kaku. Bahkan nih, beberapa orang juga meyakini bahwa Pamukkale bisa memberi ketenangan dan pengobatan bagi mereka yang punya penyakit reumatik, kulit, dan lain sebagainya.
 
Hebatnya nih, Pamukkale masuk ke dalam salah satu situs yang dibanggakan, yaitu situs warisan dunia UNESCO. Pamukkale ini juga diyakini bisa mempercantik kulit wajah di samping melemaskan otot-otot yang renganh. Air panas yang meneyrupai ar terjun yang terletak di Turki tersebut bisa juga menjadi tempat spa, atau bahkan hanya sekedar foto dan video saja. Yang jelas, para backpacker dan traveller sudah sering berkunjung ke Pamukkale ini.

2. Evil Eye
2251582937_13c56cb9d1.jpg
Pernah mendengar yang namanya Evil Eye dari Turki? Evil Eye bukan bermaksud mata setan. Evil Eye berarti mata pengusir setan. Karena berwarna biru, mata ini disebut juga Blue Evil Eye. Evil Eye dalam bahasa Turki berarti Nazar Bonchugu. Evil Eye ini diyakini sebagai jimat pengusir setan atau roh jahat.
 
Apa sih Blue Evil Eye ini? Kalau di Turki, anda pasti akan banyak menemukan bentuk Evil Eye ini di berbagai aksesoris, gantungan kunci, spion, mobil, dan lain sebagainya. Gambar mata dengan warna biru dan putih ini akan menjadi gambar yang paling banyak dijumpai pada berbagai pernak-pernik di Turki. Bahkan, bisa juga sebagai gelang, kalung, cincin dan sebagainya. Sebenarnya apa sih makna dari Blue Evil Eye ini?
 
Menurut salah seorang penduduk Turkis dilansir Vivanews, biru tua pada gambar evil ete ini berarti untuk mengusir roh jahat. Sedangkan untuk warna putihnya berarti untuk membawa keberuntungan. Oleh karena itu, nggak heran jika selain untuk mengusir roh jahat, para penduduk Turki meyakini bahwa Evil Eye ini membawa keberuntungan. 
 
Lambang Blue Evil Eye ini juga punya sebuah cerita yang meletarbelakanginya. Katanya sih, ada seorang guru yang menggabungkan kekuatan mata dan api hingga membaur menjadi satu yaitu Blue Evil Eye. Lambang itulah menjadi sebuah jimat yang diyakini penduduk setempat dengan kemampuan di atas. Maka dari itu, masyarakat Turki banyak menggunakannya di berbagai tempat.
 
Untuk aksesorisnya, harga berbagai aksesoris Blue Evil Eye ini termasuk relatif murah. Mulai dari 2 lira atau sekitar 10,500-an rupiah untuk pernak pernik gantungan kunci atau hal yang kecil-kecil. Untuk yang lebih besar dan lebih mahal, seperti misalnya kalung dan sebagainya, anda bisa membelinya hingga kisaran 50 lira atau sekitar 265,000-an rupiah.
 
Blue Evil Eye ini menurut salah satu sumbernya ada pohonnya, lho. Pohon ini juga bisa menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Nama Pohon ini adalah Evil Eye Tree. Kalau nggak percaya, coba ke salah satu lembah yang ada di Pigeon Valley, Turki. Di sini terdapat sebuah pohon yang sangat unik. saya sendiri kesulitan menebak apakah ini pohon asli atau pohon buatan. Yang jelas, di pohon ini terdapat banyak sekali blue evil eye yang tergantung layaknya buah-buahan dari pohonnya. Berbentuk bulat dan berwarna biru. Lokasinya juga berada di lokasi yang gersang.
 
Nah selain pohon, ada juga danau yang bentuknya mirip dengan si blue evil eye ini. Danau tersebut dinamakan Danau Meke dan memang mirip. Punya air berwarna biru dengan tonjolan gunung di tengahnya seolah menunjukkan bola mata pada lambang blue vil eye tersebut. 
 
Danau Meke ini terbentuk secara alami. Kalau istilah geografinya, danau Meke terbentuk lewat proses 'dual time creater lake'. Jadi, ada 2 proses yang menyebabkan danau ini terbentuk. Pertama, danau ini terbentuk karena reruntuhan yang membentuk bulat. Lalu kemudian terjadi sebuah letusan hingga membuat sebuah moncong atau sesuatu yang menunjul muncul dari danau. Itu yang tadi disebut mirip dengan bola mata. Lalu karena kejadian dan proses alam lainnya menjadikan danau ini kemudian terbentuk seperti evil eye.
 
Danau Meke ini punya luas sekitar 493 hektar dan dilindungi oleh pemerintah Turki. Danau ini punya beberapa pulau yang terpisah. Danau Meke ini punya kedalaman sekitar 1 meter di musim panas dan semakin lama semakin menyusut. Oleh karenanya banyak yang mengkhawatirkan danau ini perlahan akan punah. Padahal, Danau Meke termasuk keunikan yang dimiliki dunia. 
 
3. Jembatan Bosphorus
bosphorusBridge.jpg
Jembatan berikut ini juga merupakan salah satu yang terkenal di Turki. Bosphorus merupakan nama sebuah selat dan jembatannya sekaligus. Sebagaimana yang diketahui, Turki merupakan negara yang terletak di antara Benua Asia dan juga Benua Eropa. Laut yang ada di selat ini adalah Laut Hitam di sebelah timur laut dan Laut Marmara yang ada di sebelah barat laut. Untuk menghubungkannya, maka itu dibangunlah Jembatan Bosphorus yang bentuknya melengkung di bagian tengah. Tak tanggung, jembatan ini sangat indah dan sering kali menjadi target para fotografer.
 
Ketika anda berangkat dari Eropa, anda akan menyebrang dan pada akhirnya tiba di benua Asia. Begitu juga sebaliknya. Uniknya lagi, jika anda pergi dari Benua Eropa anda akan dikenakan tarif sekitar Rp 30,000 kurang lebihnya, tapi jika anda berangkat dari benua Asia, anda tidak akan dikenakan biaya apapun alias gratis. Panjangnya sekitar 1,5 kilometer jika diukur secara keseluruhan. 
 
Jembatan ini jika diperhatian memang melengkung di bagian tengahnya. Hal tersebut dikarenakan pada zaman dulu, jembatan Bosphorus ini difungsikan sebagai jembatan yang bawahnya bisa dilewati kapal-kapal besar. 
 
Nah, apa yang menarik dari Jembatan Bosphorus? Selain punya nilai sejarah yang cukup kuat, jembatan ini juga punya arsitektur yang indah. Ada sekitar 8 jalur di jembatan ini, tapi yang digunakan hanya 6 jalur saja. 2 jalur lagi difungsikan sebagai jalur darurat sekaligus trotoar. Dahulu, jembatan ini bisa dilalui dengan berjalan kaki. Namun, saat ini, 2 jalur tersebut tidak bisa digunakan untuk jalan kaki lagi, karena dikhawatirkan akan menjadi tempat bunuh diri dan sabotase.  
 
Tapi jangan khawatir, ada momen tertentu di mana kita bisa berjalan kaki menyusuri jembatan ini. Pada bulan Oktober, Turki menggelar sebuah event maraton yang disebut sebagai Istanbul Eurasia Marathon Intercontinental. Pada momen tersebut, anda bisa mendaftarkan diri dan mengikuti fun run atau berjalan / berlari menyusuri jembatan.
 
Nah, keindahan Jembatan Bosphorus bisa dinikmati saat momen sunset atau matahari tenggelam. Saat itulah, Jembatan Bosphorus ini akan bersinar dan terlihat sangat indah. Oleh karenanya, momen sunset jadi momen paling ditunggu para fotografer. Tak hanya itu, wisatawan bisa menikmati jembatan dengan tur menggunakan kapal. Pasti seru kan?
Read more »
Tips Travelling ke Sydney

Tips Travelling ke Sydney


Ke luar negeri untuk pertama kalinya kadang bikin kita bingung mempersiapkan diri. Apalagi kalau negara yang kita tuju adalah negara maju, yang biasanya ketat dalam hal pemeriksaan ketika kita sampai di sana. Nah, berhubung saya (alhamdulillah) udah ngerasain nih kalang kabutnya ke negeri orang, saya mau bagiin tips berdasarkan pengalaman saya.

Pertama, tips untuk persiapan ke luar negeri. Siapkan paspor pastinya jauh-jauh hari sebelum berangkat, soalnya kalau udah mepet biasanya kita terpaksa lewat calo dan lebih mahal pastinya. Normalnya, pengurusan paspor Rp 300,000 dan jadi dalam 1 minggu. Urus paspor ini perlu secepatnya, apalagi kalau kita mau ke negara luar ASEAN yang pastinya harus ngurus visa lagi. Nah, untuk packing, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan nih.
1. Gulung baju yang akan dimasukkan ke koper. Ini biar lebih hemat tempat.
Koper kecil ini muat banyak baju karena digulung
2. Semua jenis cairan sperti parfum, masukkan ke dalam kotak kedap udara misalnya tupperware kemudian taruh di koper, soalnya di bandara gak boleh bawa cairan kecuali yg di bagasi. Tetapi, madu tidak diperbolehkan di bagasi sekalipun
3. Bawa makanan seperlunya, jangan bawa benda berbau tajam. Bawa Abon, sambal terasi yang dikemas di toples, ini berguna kalau awal-awal di luar negeri lidah kita belum bisa adaptasi sama rasa makanan di sana.
4. Bawa barang yang benar-benar penting saja, antisipasi ketika pulang nanti akan banyak oleh-oleh. Kelebihan bagasi di luar negeri sangat mahal biayanya.
Packing in Rush (hihihi)
5. Tukarkan uang anda ke mata uang yang dituju sebelum berangkat, karena kurs di bandara apalagi di negara tujuan biasanya gak adil banget -_-

Nah, itu tips untuk prepare sebelum ke luar negeri, tips selama di luar negerinya ada lagi nih..
1. Manfaatkan sebaik mungkin transportasi umum, tapi tips ini berlaku kalau anda ke negara maju.
2. Bawa peta, biasanya dikasih gratisan di bandara.
3. Untuk yang gak sempat tukar uang sebelum berangkat, lebih baik gunakan atm. ATM yang bisa biasanya Mandiri, karena saya udah nyoba, sebelumnya nyoba pake BNI  tapi gak terhubung ternyata sama jaringan atm luar negeri, padahal mastercard.
4. Pelajari tempat-tempat belanja yang murah, jangan langsung kalap di satu toko.
5. Bawa botol minum, kalau di negara maju biasanya air kran bisa diminum sedangkan kalau beli air mineral kemasan harganya mahal banget.

Oke deh itu tips dari saya, semoga bermanfaat yaa. Insyaallah tipsnya bakal nambah kalau saya dapat kesempatan menjelajahi negara lain lagi :D.
Read more »
Me and  Sydney

Me and Sydney


My dream comes true. Siang itu saya gak kepikiran apa pun soal pengumuman hasil seleksi student exchange, malah sibuk belanja barang baru buat kosan. But, lucky me, pas lagi ngantri di kasir ada telepon masuk. Telepon itu ternyata dari rektorat Unhas, dan ngasihtau kalau saya terpilih sebagai satu dari empat belas mahasiswa lain untuk mewakili Unhas dalam pertukaran pelajar ke Australia, tepatnya University of Technology Sydney. Detik itu juga saya shock, senang kebangetan sampe gemetaran gitu (haha).  Teman di sebelah saya khawatit melihat ekspresi saya yang katanya lebih mirip orang nerima berita kecelakaan, lebih-lebih kasir yang mungkin mikir kalau ekspresi saya adalah ekspresi orang lupa bawa duit (wkwkwk).

Sejak pengumuman itu, hari-hari saya semakin berwarna (ciaaaaat :p). Gimana gak, saya yang biasanya cuma bolak balik makassar-balikpapan naik pesawat, tiba-tiba bakal naik pesawat ke Sydney euy! Saya mulai sibuk ngurus paspor, visa dan segala macam pernak-pernik (?) buat berangkat ke Aussie. And then, kuliah mulai ada yg terlewatkan. Beberapa dosen sih asik dan mengerti banget, bahkan mendukung. Tapi, ada juga yang kelihatan gak suka, dan inilah yang bikin saya sampe sekarang cenat-cenut takut dapat error -_-.

Seiring berjalannya waktu, saya jadi males mikirin matkul yang kemungkinan dapat error gara2 student exchange ini. Simpel, matkul bisa diulang, tapi kesempatan ini gak bisa diulang kalau saya lewatkan. Apalagi, jadi 15 orang yang terpilih dari 160 orang yang ikut seleksi itu bener2 gak kebayang, syukurnya gak abis2. So, saya memutuskan untuk menikmati kesempatan ini. Kesempatan untuk melihat bagian lain dari bumi ciptaan Allah. Now, here i am, sydney, salah satu kota maju yang mengagumkan di dunia. Saya akan cerita mulai dari perjalanan sampai hari-hari saya di sydney, tapi sabar yaaa karena akses internet di sini mahal banget. See you at the next post!
Read more »